Pencari Karir Pencari Kandidat

Ramadan Berlalu, Ini Amalan yang Baik Dilakukan di Bulan Syawal

24 Maret 2021 20:03 Pembekalan Karir 2762 KALI DIBACA 0 KOMENTAR 0 KALI DIBAGIKAN

Dalam hitungan hari bulan Ramadan akan segera berakhir, dan semua umat Islam akan menyambut hari raya Idul Fitri 1 Syawal dengan suka cita. Meski Ramadan sudah berlalu, kita akan menyambut bulan yang nggak kalah istimewa dari bulan Ramadan, yakni bulan Syawal.

 

Sebagai bulan terbaik setelah bulan Ramadan, di bulan Syawal umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah baik wajib maupun sunnah untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Diharapkan kebaikan dan amalan yang kita lakukan saat Ramadan dapat terus berlanjut di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. 

 

Keistimewaan bulan Syawal bisa diisi dengan melakukan beberapa ibadah sunnah, salah satunya berpuasa enam hari pertama di bulan Syawal. Amalan baik lainnya yang bisa kamu lakukan agar meraih keistimewaan Syawal bisa kamu simak di bawah ini.

 

Puasa 6 hari di awal bulan Syawal

 

Setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, di awal bulan Syawal kita dianjurkan untuk melanjutkan puasa selama 6 hari dengan ganjaran pahala yang amat besar. Keistimewaan puasa Syawal dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim Abu Ayyub Al Anshori yang pernah mendengar sabda Nabi Muhammad SAW.

 

"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh." (HR Muslim).

 

Niat yang ikhlas untuk berpuasa 6 hari di awal bulan Syawal membuat kamu mendapatkan pahala setara dengan berpuasa selama setahun penuh. Tapi ingat ya, pada 1 Syawal / Idul Fitri kita diharamkan untuk berpuasa, jadi kamu baru bisa menunaikan ibadah puasa sunnah 6 hari setelah Idul Fitri. Melihat keistimewaan puasa sunnah di awal bulan Syawal ini, sebagai umat Muslim kita harus bisa memanfaatkan bulan Syawal untuk menambah pundi-pundi pahala.

 

Meningkatkan silaturahmi

Amalan selanjutnya yang baik dilakukan di bulan Syawal adalah bersilaturahmi. Silaturahmi dalam suasana Idul Fitri atau yang dikenal oleh masyarakat Indonesia halal bi halal punya keistimewaan juga di bulan Syawal. Kita diharuskan untuk menjaga kedekatan antar sesama saudara Muslim dan saling bermaafan atas segala kekhilafan yang pernah dilakukan.

 

Maaf memaafkan adalah salah satu bentuk keimanan kita kepada Allah SWT. Menyingkirkan sifat arogan dan menghilangkan dendam dengan bermaafan juga sudah dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-A’raf ayat 199.

 

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh,” (QS. Al-A’raf:199)

 

Rasulullah SAW juga mengatakan barang siapa yang menjaga silaturahmi ganjarannya ialah perluasan rezeki. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam HR Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda siapa saja yang ingin diluaskan rezeki dan dipanjangkan pengaruhnya, maka sambunglah tali persaudaraan.

 

Meskipun dalam kondisi pandemi covid-19 dimana kita harus saling menjaga jarak, silaturahmi dapat terus berjalan dengan bantuan perangkat online. Kamu bisa saling mengirimkan pesan ucapan Idul Fitri dan saling bermaaf-maafan lewat beragam jaring komunikasi / media sosial.

 

Itikaf di Masjid

I’tikaf atau berdiam diri di dalam masjid juga jadi salah satu keutamaan di bulan Syawal. Berdiam diri di masjid bukan berarti nggak melakukan apa-apa ya, melainkan dengan melaksanakan shalat 5 waktu, shalat sunah atau membaca Al-Quran. Tujuannya ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menyempurnakan pahala Ramadan sebelumnya.

 

Biasanya I’tikaf dilakukan 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Pelaksanaan I’tikaf banyak yang dilakukan saat malam hari, tapi ada juga yang melaksanakannya selama seharian penuh tanpa kelur masjid.

 

I’tikaf juga bisa lho dilakukan di bulan Syawal, kalau di bulan Ramadan kamu belum sempat melaksanakannya. Tapi, yang jadi pertanyaan dalam kondisi pandemi seperti ini, bagaimana cara beri’tikaf? Dilansir Tribunnews, Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Jawa Tengah, Wahid Ahmadi menjelaskan, kita boleh melakukan i’tikaf di masjid asalkan masjid tersebut kosong dan hanya kita sendiri yang beri’tikaf. Tapi ada baiknya kita menghindari beri’tikaf di masjid agar nggak ada orang lain yang mengikuti dan malah mendatangkan lebih banyak orang.

 

Wahid Ahmadi juga menyarankan agar melakukan i’tikaf di rumah aja. Asalkan kita tetap semangat dalam beribadah, rumah akan terasa seperti masjid.

 

Menjaga shalat malam dan ibadah sunah lainnya

Di bulan Ramadan umat Islam sudah terbiasa dengan shalat malam tarawih. Nah, ketika Ramadan sudah lewat shalat sunah tahajud bisa dikerjakan untuk menyambung pahala ibadah Ramadan. 

 

Sejatinya mengamalkan shalat malam sesudah shalat wajib akan membawa kebaikan untuk diri sendiri. Karena itu ada baiknya jika amalan sunnah yang biasa dilakukan selama Ramadan, jangan sampai terputus saat bulan Syawal bahkan bulan-bulan seterusnya.

 

Itu tadi beberapa amalan baik yang bisa kamu lakukan di bulan Syawal agar kemenangan Idul Fitri semakin sempurna, dan bisa menjadi insan yang lebih baik lagi di hadapan Allah SWT. Yuk temukan tips-tips dan informasi karir lainnya di aplikasi TopKarir. Download aplikasinya gratis di Play Store dan App Store!

 

Artikel Terkait
Lihat Selengkapnya
Tips Agar Gaji Nggak Cepat Ludes Saat Bulan Ramadan

Tips Agar Gaji Nggak Cepat Ludes Saat Bulan Ramadan

Kalau dipikir-pikir Ramadan seharusnya bisa jadi momen yang tepat untuk berhemat karena uang makan berkurang, kebiasaan jajan di siang bolong juga hilang. Tapi pada kenyataanya, pengeluaran di bulan puasa malah membengkak yang diakibatkan banyak hal, salah satunya membeli barang yang nggak dibutuhkan karena tergoda diskonan.   Sebelum kantong kamu makin teriris, lebih baik rencanakan keuangan sejak awal Ramadan, sebab masih ada kebutuhan lain menjelang, saat dan setelah Idul Fitri. Terlebih di tengah situasi corona saat ini, kamu harus pintar-pintar menyisihkan uang untuk kondisi darurat. Yuk simak tips agar gaji kamu nggak cepat habis saat bulan Ramadan berikut ini.   Belanja kebutuhan di awal Ramadan Harga kebutuhan pokok menjelang lebaran biasanya akan mengalami kenaikan. Hal ini akan berdampak pada pengeluaran bulanan yang membengkak. Untuk mengantisipasi naiknya harga barang dan kebutuhan pokok ada baiknya kamu membeli kebutuhan selama sebulan penuh di awal puasa. Pilih bahan makanan yang tahan lama untuk satu bulan, selain lebih hemat waktu kamu juga jadi lebih aman karena nggak sering keluar rumah untuk berbelanja.   Berbuka dan memasakan makanan di rumah Dengan memasak makanan sendiri di rumah kamu bisa berhemat sekaligus menyesuaikan selera makanan sesuai yang kamu mau. Makanan akan jauh lebih higienis dan sehat pastinya. Atau kamu juga bisa menggabungkan menu makanan berbuka dan sahur, buat makanan dua kali lebih banyak untuk berbuka, sisakan, simpan dan hangatkan makanan menjelang waktu sahur.   Kamu jadi lebih hemat waktu juga karena nggak perlu memasak untuk santap sahur deh. Terlebih saat kondisi wabah seperti sekarang lebih baik untuk membatasi acara buka bersama di luar demi menjaga kesehatan dan memutus rantai penyebaran virus.   Kurangi membuka toko online dan e-commerce Akibat social distancing dan pembatasan sosial berskala besar, masyarakat kini lebih memilih berbelanja aman lewat online, marketplace dan e-commerce. Tapi kemudahan berbelanja ini bisa makin mengikis dompet kalau pengeluaran belanja nggak terkontrol.   Apalagi menjelang lebaran, sebagian besar marketplace dan e-commerce biasanya memberikan diskon besar-besaran. Karenanya mulai batasi diri membuka produk-produk di toko online untuk mengurangi niat berbelanja barang yang tidak dibutuhkan.   Prioritaskan kebutuhan Kamu juga harus bisa membedakan mana barang yang harus dibeli dengan alasan kebutuhan dan mana yang cuma keinginan. Prioritaskan kebutuhan pokok atau kebutuhan yang sifatnya nggak bisa ditunda. Seperti membayar tagihan listrik, air, biaya pendidikan, pinjaman, kebutuhan makan, perlengkapan mandi atau menabung.   Sedangkan barang yang merupakan keinginan bisa dibeli dengan uang sisa jika semua kebutuhan pokok sudah terpenuhi.   Terapkan prinsip 10-20-30-40 Prinsip ini memuat 40 persen gaji dialokasikan untuk kebutuhan pokok seperti makan sehari-hari, transportasi, tagihan listrik dan air, sewa rumah / kos. 30 persennya digunakan untuk membayar cicilan utang seperti tagihan kartu kredit, cicilan kendaraan, perangkat digital, atau cicilan rumah.   Sedangkan 20 persennya digunakan untuk tabungan, investasi atau dana darurat. 10 persen sisanya disisihkan untuk beramal di bulan yang suci ini. Prinsip ini bisa berbeda-beda tiap orang tergantung besarnya kebutuhan dan penghasilan.   Hidup dengan sederhana Dalam kondisi wabah corona sekarang ini, kamu harus ekstra bijak mengelola keuangan. Pasalnya kondisi perekonomian Indonesia juga sedang tidak baik, banyak perusahaan yang melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah karyawan bahkan menutup usahanya. Dibutuhkan antisipasi keuangan menghadapi kondisi buruk yang terjadi dalam dunia kerja, seperti PHK, unpaid leave dan potongan gaji.   Peganglah prinsip cukup dalam berbelanja, pilih dan beli barang yang benar-benar dibutuhkan untuk kondisi sekarang ini. Kelola keuangan untuk jangka waktu yang panjang, miliki dana darurat sebagai antisipasi keadaan yang nggak terduga suatu saat nanti.   Itu tadi 6 tips agar gaji bulanan kamu nggak cepat habis selama Ramadan di tengah kondisi corona. Semoga bisa menginspirasi Sahabat TopKarir yang membaca di rumah ya. Yuk temukan tips-tips dan informasi karir lainnya di aplikasi TopKarir. Download aplikasinya gratis di Play Store dan App Store!
Komentar