Pencari Karir Pencari Kandidat

Tentang Generasi Sandwich dan Cara Terbaik Menyikapinya

23 Juli 2021 09:07 1170 KALI DIBACA 0 KOMENTAR 0 KALI DIBAGIKAN

Belakangan ini istilah generasi sandwich sering banget ya kita dengar di beberapa obrolan dan media sosial.

 

Generasi ini dianalogikan sebagai sandwich yang mana dihimpit oleh kebutuhan finansial orangtua dan anak.

 

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller, profesor sekaligus direktur praktikum dari Universitas Kentucky pada tahun 1981 dalam jurnal bertajuk The Sandwich Generation: Adult Children of The Aging.

 

BPS mencatat pada tahun 2019 di Indonesia, persentase lansia yang tinggal dalam satu rumah berisikan 3 generasi mencapai 40,64%.

 

Seseorang tanpa sengaja berada dalam situasi yang mengharuskan mereka membiayai kebutuhan diri sendiri, orangtua, dan anak-anaknya.

 

Bukan cuma kebutuhan sehari-hari aja lho, termasuk juga biaya kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya.

 

Berat ya jadi generasi sandwich? Yang pasti nggak gampang, dan mereka yang berada di situasi ini nggak bisa menghindarinya.

 

Karena itu hal terbaik bukan menyesali, melainkan berusaha mengatur finansial sebaik mungkin agar mampu menjawab kebutuhan hidup diri sendiri, orangtua, dan juga anak selama hidup.

 

Nah, buat kamu yang merasakan sebagai generasi sandwich, ada beberapa tips agar urusan finansial dan kehidupanmu bisa berjalan dengan baik.

 

1. Kelola keuanganmu dengan bijak

Buat kamu yang belum terbiasa mengatur keuangan, kamu mulai dengan mencatat arus pengeluaran dan pemasukan harian rumah tangga, begitupun nominal yang perlu dikeluarkan untuk anak dan orang tua.

 

Catatan ini berguna agar nantinya cashflow dapat dievaluasi dan dirumuskan untuk membuat perencanaan anggaran yang lebih matang.

 

Kelola juga penghasilanmu, bisa dengan menerapkan formula 50/30/20 atau 40/30/20/10 untuk mengelola gaji. 

 

Pada formula 50/30/20, 50% untuk kebutuhan pokok seperti makan, tagihan listrik, air, belanja bulanan, dan lainnya. 30%-nya untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan/membeli barang yang diinginkan. Dan 20% sisanya untuk ditabung.

 

Sedangkan rumus 40/30/20/10. 40%-nya untuk kebutuhan primer, 30% untuk tabungan dan dana darurat, 20% untuk hiburan, dan 10% untuk beramal.

 

Pilih formula yang paling cocok buat kamu. Apapun formula pengelolaan yang dipakai, usahakan menabung di awal, kalau di akhir biasanya sih akan terpakai untuk keperluan lain. Intinya sisih sebelum sisa.

 

2. Proteksi diri dan keluarga dengan asuransi

Kita nggak pernah tau apa yang terjadi pada diri dan keluarga kita di masa mendatang, untuk berjaga jaga, asuransi bisa jadi salah satu bentuk investasi jangka panjang yang bisa jadi pertimbangan.

 

Bukan cuma asuransi jiwa dan kesehatan aja lho, kamu juga bisa membuat tabungan untuk asuransi biaya pendidikan anak. 

 

3. Sebisa mungkin hindari berhutang

Sekarang banyak banget nih metode berbelanja dengan sistem kredit yang syarat dan ketentuannya mudah dipenuhi.

 

Eits, tapi Sahabat TopKarir nggak boleh terlena dengan tawaran ini tanpa pertimbangan yang matang.

 

Kamu harus paham berapa bunganya? Apakah utang ini untuk memenuhi kebutuhan produktif atau justru utang konsumtif? Pertimbangkan juga, apakah kondisi keuanganmu yang sekarang sanggup membayar jumlah tenor cicilan?

 

Pertimbangan yang matang dan terperinci bisa menjauhkanmu dari jeratan hutang yang tanpa kamu sadari terus membengkak.

 

4. Mencari penghasilan tambahan

Untuk membantu mencukupi kebutuhan pribadi, orangtua, dan anak, kamu bisa coba dengan menambah sumber penghasilan. Bisa dengan freelancer, tutor, berwirausaha, atau yang lebih mudah jadi reseller karena nggak perlu mikirin ongkos produksi.

 

Tapi ingat ya jangan sampai pekerjaan tambahanmu memotong banyak waktu untuk keluarga. Kesehatanmu tetap yang paling utama, jangan terlalu keras bekerja sampai lupa menjaga diri.

 

5. Miliki dana pensiun untuk memutus generasi sandwich

Dana pensiun ini penting sebagai aset di hari tua ketika kita tidak lagi produktif. Namun sayangnya Berdasarkan catatan OJK, jumlah peserta program dana pensiun baru mencapai 4,63 juta orang di tahun 2018 dari sekitar 129,36 juta penduduk yang bekerja.

 

Menyiapkan dana pensiun artinya menyisihkan pendapatan untuk ditabung, maupun investasi jangka panjang. Besarnya juga bisa kamu sesuaikan dengan kemampuan finansial yang dimiliki.

 

Dana pensiun ini juga bertujuan agar kelak anak-anakmu nanti bisa terlepas dari generasi sandwich.

 

Setidaknya tanggungan untuk mencukupi kebutuhanmu jadi lebih ringan. Karena kamu masih memiliki dana pensiun yang bisa kamu alokasikan untuk modal usaha ringan di hari tua, seperti membuka warung, kedai, dan sebagainya.

 

6. Bangun komunikasi dengan keluarga

Dan yang nggak kalah pentingnya adalah berkomunikasi dengan keluarga. Bicarakan dengan jujur persoalan finansialmu.

 

Kalau kamu masih punya adik atau kakak, bicara dengan mereka untuk bekerja sama membantu mencukupi kehidupan orangtua.

 

Sedangkan buat kamu yang anak tunggal coba deh kasih pengertian ke orangtua akan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga yang harus ditanggung.

 

Dengan begitu orangtua bisa memaklumi, tidak berharap lebih, atau menilaimu pelit karena memberi dengan jumlah yang sedikit.

 

Jangan memaksakan untuk menanggung kebutuhan orangtua di luar batas kemampuan, ya. Ingat, komunikasi adalah kunci utamanya!

 

Itu tadi beberapa tips menyikapi kenyataan sebagai generasi sandwich supaya bisa hidup lebih bahagia secara finansial maupun emosional.

 

Sekarang kamu bisa lebih dekat dengan impian karir dengan aplikasi terbaru TopKarir yang tampil lebih cepat dan praktis. Download aplikasinya gratis di App Store dan Play Store ya.


Temukan informasi lowongan kerja terupdate dan rencanakan karir hebatmu di TopKarir.

Artikel Terkait
Lihat Selengkapnya
Menyatukan Karyawan di Perusahaan yang Multigenerasi

Menyatukan Karyawan di Perusahaan yang Multigenerasi

Dalam sebuah lingkungan perusahaan pasti diwarnai oleh beragam latar belakang pekerja, mulai dari latar belakang daerah, pendidikan, sampai generasi. Suatu perusahaan umumnya mempunyai 4 tipe generasi, diantaranya : Silent Generation (lahir sebelum 1945) yang cenderung loyal dan pekerja keras, Baby Boomer (lahir 1946 - 1964) merupakan generasi yang lebih optimis dan komunikatif, Generation X (lahir tahun 1665 - 1980 an) yang cenderung mempertanyakan otoritas, Generation Y / Milenial (lahir 1981 - 1995) adalah generasi yang multitasking dan kreatif, dan Generation Z (lahir 1996 - 2012) yang sudah maju mengikuti perkembangan teknologi.   Menurut Pew Research Center, milenial menjadi generasi terbesar di ranah ketenagakerjaan sekarang ini. Mereka sudah mulai mengubah aturan dan sistem kerja konvensional dengan memakai pakaian kasual saat ke kantor dan jam kerja yang fleksibel. Namun mereka juga membuktikan kinerjanya bisa maksimal meski diberi keleluasaan. Multigenerasi akan membawa keuntungan untuk perusahaan, apalagi kalau perusahaan bisa mengelola keberagaman itu menjadi satu kesatuan demi tujuan bersama. Berikut ini cara menyatukan pekerja di kantor yang multigenerasi.   Membuat aturan tetap Pekerja yang berasal dari beragam generasi tentu punya kebiasaan dan karakter kerja yang berbeda-beda. Tapi perusahaan harus membuat beberapa aturan yang keberadaanya gak bisa diubah, dan punya konsekuensi jika melanggarnya. Contohnya menetapkan jam kerja dari pukul 08:00 - 17:00, namun yang terpenting karyawan harus bekerja selama 9 jam setiap hari. Jadi, kalau ada pekerja yang tiba lebih awal bisa pulang lebih cepat atau sebaliknya. Aturan 9 jam kerja adalah aturan yang nggak bisa dinego.   Membangun komunikasi yang baik Tidak bisa dipungkiri komunikasi adalah kunci operasional perusahaan. Tanpa komunikasi perusahaan akan sulit mencapai tujuan. Perusahaan yang multigenerasi punya resiko miskomunikasi karena perbedaan cara pandang dan nilai. Cara untuk mengatasinya yakni dengan membaca konteks, emosi, dan status setiap pekerja ketika melakukan komunikasi. Misalnya generasi milenial harus menyesuaikan gaya bahasa ketika berkomunikasi dengan pekerja dari generasi yang lebih tua. Intinya adalah saling menghargai dan menghormati perbedaan untuk membangun hubungan yang baik antar generasi di sebuah perusahaan.   Diskusi tentang perubahan Perusahaan yang nggak bisa menjawab tantangan zaman dan teknologi pasti akan tertinggal. Semua pekerja dalam perusahaan harus bersinergi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Namun tantangan yang terjadi yakni setiap generasi bisa merasa terancam akan perubahan. Baby boomers misalnya, mungkin merasa generasi milenial dan Z membuat mereka kehilangan daya saing akibat kemampuan menguasai teknologi. Berdiskusi tentang kegelisahan setiap generasi bisa melahirkan solusi dan pengertian bahwa perubahan akan terus terjadi untuk itu diperlukan kesiapan dan penyesuaian. Bersatu padu menatap masa depan adalah solusi terbaik untuk kemajuan perusahaan.   Hindari asumsi pribadi Setiap generasi cenderung menunjukkan karakteristik mereka. Tapi kamu jangan sepenuhnya menilai dan menggeneralisasi seseorang berdasarkan usia atau kategori generasinya. Karena selain berdampak buruk bagi kinerja perusahaan, juga akan membuat lingkungan kantor menjadi toxic. Asumsi pribadi harus dijauhkan dalam bekerja, ada baiknya setiap masalah dikomunikasikan secara terbuka.     Itu tadi 4 kunci buat menyatukan karyawan multigenerasi di sebuah perusahaan. Di tahun 2020 ini buat hubungan di lingkungan kantormu jadi lebih kompak dan harmonis. Meski konflik pasti terjadi, tapi perusahaan dan semua pekerjanya harus bahu membahu menyelesaikannya dengan baik. Informasi dan tips-tips karir lainnya yang berguna untuk kesuksesan karir kamu ada di aplikasi TopKarir. Yuk download aplikasinya di App Store dan Play Store kamu sekarang.  
Komentar